Rabu, 04 September 2013

Namanya Matahari

Perhatiannya selalu saja menghangatkan. Namanya Matahari, sinar hangatnya selalu membakar semangatku menjalankan hari. Dia tidak tersenyum pun tak menyapa nyata, dia hanya memberiku pesan singkat yang selalu aku senang membacanya. Perhatian kecilnya membuatku terbiasa, terbiasa jika aku memang perlu cahayanya.

Cahayanya tak begitu terang juga tak begitu redup, sinarnya tak begitu panas namun menghangatkan. Minggu lalu saat dia berada di puncak jenuhnya dia membakarku, entah dia sengaja atau tidak aku tak tau, mungkin mood-nya sedang kurang baik. Aku juga bingung mengapa ia bisa begitu, tapi tentu saja dia tak pernah membakarku secara langsung, dia membakar hanya lewat tingkahnya yang dingin. Dalam tanya aku berkata dalam hati, "Mengapa Matahari yang ku kenal menjadi begitu panas sehingga membakar?" Apa perlu aku membawa seember air dan menyiram matahari agar tak lagi terbakar? Entahlah.

Akhir-akhir ini Matahari tak seperti biasa, perhatian yang ku nanti setiap pagi kini jarang ada di inbox pesanku, hanya beberapa kali saja kalau dia tidak sibuk, mungkin. Aku berpikir cuaca di luar sedang mendung diusik awan hitam yang sesekali lewat itu, sehingga cahayanya yang hangat sedikit terhalang untuk menyapaku. Ya aku selalu mencoba berprasangka baik terhadap Matahari.

Suatu hari aku bertanya pada Matahari "ada apa dengan kamu akhir-akhir ini?" Matahari hanya diam, dia tak balas pesanku. Padahal di luar langit sudah cerah, awan-awan hitam pun sudah pulang kemarin, hanya awan putih yang nampak bersahabat dengan pola lembut seperti permen kapas yang Matahari suka, ya selembut foto senyumnya di layar handphone-ku yang lama telahku simpan tanpa sepengetahuannya.

Hari itu handphone-ku berdering, ada pesan singkat yang baru masuk ke inbox beratas nama Matahari. Senangnya. Tapi entah mengapa, sebelum aku membuka pesan singkat itu langit di luar rumah berubah menjadi jingga ke kuning - kuningan. Warnanya cantik, seperti matahari tapi agak sedikit gelap, dan sementara. Segeralah aku membuka inbox pesan itu, dadaku begitu sesak saat ingin membaca pesannya padahal aku seharusnya senang karena matahari kembali mengabariku lagi walaupun bukan di pagi hari. "Maaf, dari awal kita memang tidak cocok" Tulisnya. Segeralah kuketik keypad handphone-ku "ada apa Matahari? Apa salahku?" tapi tidak dibalasnya. Sungguh, aku masih bingung mengapa Matahari pergi meninggalkanku dengan alasan tak jelas seperti itu. Mungkin memang Matahari tak mau menyinariku dari awal. Entahlah.

Langit sudah senja di luar, semakin pekat jingganya. Semakin lama semakin gelap, mungkin itu alasn Matahari pergi. Dia takut gelap.

Semenjak Matahari pergi hari-hariku menjadi gelap, tak ada lagi cahayanya yang menyapa hangat, sampai aku terbiasa dalam gelap. Saat aku berjalan pulang, ada cahaya redup yang mendekat. Cahayanya tak terlalu terang juga tak terlalu redup cukup untuk menerangi jalan pulang ke rumah. Penasaran, ku sapa dia duluan "hai, siapa kau?" "aku Bulan. Mengapa kau nampak murung?".