Perhatiannya selalu saja menghangatkan.
Namanya Matahari, sinar hangatnya selalu membakar semangatku menjalankan hari.
Dia tidak tersenyum pun tak menyapa nyata, dia hanya memberiku pesan singkat
yang selalu aku senang membacanya. Perhatian kecilnya membuatku terbiasa,
terbiasa jika aku memang perlu cahayanya.
Cahayanya tak begitu terang juga tak begitu
redup, sinarnya tak begitu panas namun menghangatkan. Minggu lalu saat dia
berada di puncak jenuhnya dia membakarku, entah dia sengaja atau tidak aku tak tau,
mungkin mood-nya sedang kurang baik.
Aku juga bingung mengapa ia bisa begitu, tapi tentu saja dia tak pernah
membakarku secara langsung, dia membakar hanya lewat tingkahnya yang dingin.
Dalam tanya aku berkata dalam hati, "Mengapa Matahari yang ku kenal
menjadi begitu panas sehingga membakar?" Apa perlu aku membawa seember air
dan menyiram matahari agar tak lagi terbakar? Entahlah.
Akhir-akhir ini Matahari tak seperti biasa,
perhatian yang ku nanti setiap pagi kini jarang ada di inbox pesanku, hanya beberapa kali saja kalau dia tidak sibuk,
mungkin. Aku berpikir cuaca di luar sedang mendung diusik awan hitam yang sesekali lewat itu, sehingga cahayanya yang hangat
sedikit terhalang untuk menyapaku. Ya aku selalu mencoba berprasangka baik
terhadap Matahari.
Suatu hari aku bertanya pada Matahari
"ada apa dengan kamu akhir-akhir ini?" Matahari hanya diam, dia tak
balas pesanku. Padahal di luar langit sudah cerah, awan-awan hitam pun sudah pulang kemarin, hanya awan putih yang nampak bersahabat dengan pola lembut seperti permen kapas yang
Matahari suka, ya selembut foto senyumnya di layar handphone-ku yang lama telahku simpan tanpa sepengetahuannya.
Hari itu handphone-ku
berdering, ada pesan singkat yang baru masuk ke inbox beratas nama Matahari.
Senangnya. Tapi entah mengapa, sebelum aku membuka pesan
singkat itu langit di luar rumah berubah menjadi jingga ke kuning - kuningan.
Warnanya cantik, seperti matahari tapi agak sedikit
gelap, dan sementara.
Segeralah aku membuka inbox pesan
itu, dadaku begitu sesak saat ingin membaca pesannya padahal aku seharusnya
senang karena matahari kembali mengabariku lagi walaupun bukan di pagi
hari. "Maaf, dari awal kita memang tidak cocok" Tulisnya. Segeralah kuketik keypad handphone-ku "ada apa Matahari? Apa salahku?" tapi tidak dibalasnya. Sungguh, aku
masih bingung mengapa Matahari pergi meninggalkanku dengan alasan tak jelas seperti itu. Mungkin memang Matahari tak mau menyinariku dari awal.
Entahlah.
Langit sudah senja di luar, semakin pekat
jingganya. Semakin lama semakin gelap, mungkin itu
alasn Matahari pergi. Dia takut gelap.
Semenjak
Matahari pergi hari-hariku menjadi gelap, tak ada lagi cahayanya yang menyapa
hangat, sampai aku terbiasa dalam gelap. Saat aku berjalan pulang, ada cahaya redup yang
mendekat. Cahayanya tak terlalu terang juga tak terlalu redup cukup untuk
menerangi jalan pulang ke rumah. Penasaran, ku sapa dia duluan "hai, siapa kau?" "aku Bulan. Mengapa kau
nampak murung?".